Merawat Indonesia
![]() | ||||||
| Sumber foto : Google search |
Dalam kurun waktu dua sampai empat bulan terakhir indonesia mengalami berbagai cobaan, mulai perkara penistaan agama yang menyeret sejumlah figur Indonesia, hingga keikutsertaan para akademisi dalam menanggapi berbagai terpaan issu yang bergulir hingga membangkitkan sejumlah reaksi nasional tergabung dalam aksi umat muslim di Jakarta hingga berjilid - jilid. Selanjutnya polemik tersebut merambat keberbagai penjuru, dari Pilkada DKI Jakarta hingga issu bangkitnya Partai Komunis Indonesia (PKI) dan berbagai issu yang menyulut stabilisasi nasional lainnya.
Dibalik semua kejadian itu menjadi ujian tersendiri bagi negara demokrasi, dimana poros kekuasaan dipegang oleh rakyat, dengan kata lain pejabat dalam sebuah negara demokrasi merupakan komponen yang mengadministrasi setiap hajat rakyatnya. seperti yang diamini dalam bahasa yunani demos berarti "rakyat" dan cratos atau cratein berarti " pemerintah ", sederhananya mengutip definisi Abraham Lincoln bahwa demokrasi merupakan pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat. Untuk persoalan indonesia akhir-akhir ini merupakan tanggung jawab seluruh instansi yang terkait dengan perkara tersebut, sehingga mampu menyelengarakan negara demokrasi secara definitif maupun praktis.
Selain ujian bagi demokrasi Indonesia, dengan adanya keikutsertaan rakyat merupakan angin segar sebagai pengejawantahan demokrasi, yakni andil dalam menanggapi setiap issu nasional, dan telah dibuktikan dengan hadirnya beberapa elemen-elemen masyarakat yang ikut bereaksi dalam menentukan sikap terkait issu yang entah ujungnya akan kemana, di nyatakan dalam beberapa media massa nasional yang mengumbar dengan gamblang partisipaasi dari elemen-elemen masyarakat yang diwakili beberapa organisasi daerah maupun multinasional.
Standing point, problematika tersebut adalah harus mampu dijawab dengan sikap netralitas dan objektif dari Institusi negara untuk bisa menjamin keadilan, sehingga kepercayaan masyarakat bisa terjaga. Kemudian masyarakat yang terlibat dalam perbedaan harus mampu membuang sisi egoisme sebagai bentuk warga negara yang baik dan tunduk kepada ideologi negara, biarkan itu menjadi partikularis paham, yang artinyaa bersifat privat dan apabila dibenturkan dalam wilayah publik-kenegaraan segala bentuk perbedaan harus tunduk kepada ideologi atau paham kebangsaan yang dalam hal ini tercermin dari penghayatan pancasila. Optimisme untuk meruwat dan merawat NKRI harus menjadi poin penting bagi seluruh komponen negara, dan sudah didengungkan dari para pahlawan hingga para tokoh-tokoh yang menjadi figur panutan. Ini harus menjadi contoh untuk bagaimana menjaga dan menjunjung tinggi nilai persatuan dan kesatuan. Karena nilai budi bagi seorang warga negara adalah mencintai negara dan segenap masyarakatnya, jika tidak waallahu'alam bi showab./fsa.

Komentar
Posting Komentar